“
Aku Ikhlaskan Kepergianmu, Ibu ”
Pagi
itu langit cerah tak bermendung, rupanya langit mulai melukiskan keelokkannya,
kicauan burung kembali terdengar merdu seakan menerpa sendu yang kerapkali
datang menyuarakan kepiluan melalui derai hujan kemarin. Aku, Alza Shafira
Putri, seseorang yang katanya terlahir Introvert
menjalani hari-hariku seperti biasa. Bangun pagi dan segera siap-siap untuk
berangkat ke sekolah untuk menimba ilmu dan tak lain untuk kembali bercengkrama
dengan teman-teman. Aku mulai berpamitan dengan kedua orang tuaku untuk segera
berangkat ke sekolah. Pada waktu aku berpamitan, ibuku mengatakan bahwa hari
itu ia akan pergi keluar kota untuk berkunjung ke rumah tanteku.
“Nak,
hari ini ibu mau pergi ke rumah Tante Sella ya, kamu gak usah ikut, cuma
sebentar kok.”
“Oh iya, memang
ada perlu apa? Tumben sekali kesana. Ayah ikut kesana, Bu?” Tanyaku.
“Biasa
ada keperluan dan sekalian bersilaturahmi nak. Ayah ngga ikut, kayaknya sedang
sibuk mengurus pekerjaannya.” Jawab ibuku.
Saat
itu aku masih kelas 10, dan sekolahku jaraknya tidak begitu jauh dengan
rumahku. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 15.00, suara bel yang dirindukan
oleh para siswa akhirnya berbunyi, dan saatnya pulang. Sesampainya dirumah,
ternyata ibu sudah tidak ada, rumahpun kosong, mungkin ibuku sudah berangkat.
Hari sudah gelap, langit mulai usang dan ibu belum juga pulang. Tiba-tiba ada
suara motor mendekati rumahku, dan ternyata itu ayahku yang baru pulang selesai
bekerja.
“Assalammu’alaikum,”
ucap Ayah sembari membuka pintu.
“
Wa’alaikumsalam, Yah.”
“Ibumu
mana, Nak? Belum pulang?”
“Belum,
Yah. Aku juga dari tadi nunggu nih.”
“Yasudah
nanti juga pulang, lebih baik sekarang kamu mandi lalu segera siap-siap untuk
sholat maghrib.”
Seusai sholat maghrib aku mulai mengerjakan tugas
sekolah yang tadi diberikan oleh guruku.Tak lama kemudian, sekitar pukul 20.00
tiba-tiba gawai milikku berbunyi menandakan ada panggilan masuk, dan ternyata
itu dari ibuku.
“Halo
assalammu’alaikum, Bu?” kataku mendahului perbincangan.
“Wa’alaikumsalam
Alza ini tante Sella”
“Oh
ini tante, ibu di mana, Tan?” Tanyaku dengan penuh rasa heran.
“Alza
kamu harus sabar, ini ibumu masuk rumah sakit, Nak. Tolong segera beri tahu
Ayah, Ya!” jawab tanteku dengan suara yang terdengar cemas.
Aku
langsung cemas dan segera memberi tahu kabar tersebut kepada Ayah. Ayahpun
terkejut karena tidak menyangka bahwa Ibu akan masuk rumah sakit. Aku dan Ayah
segera berangkat menuju rumah sakit yang letaknya tak jauh dari rumah tanteku.
Kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam lebih untuk menuju kesana. Dan
sesampainya disana, Ibuku belum sadarkan diri. Aku merasa sedih, dan hanya bisa
melantunkan doa kepada Allah, berharap agar ibuku segera sadar dan kembali
sehat. Ayahpun begitu, dari raut wajahnya terlihat kepiluan melihat salah
seorang yang disayanginya terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit.
Keeseokkan
harinya ibu mulai sadar, dokter bilang penyakit hipertensi ibuku kambuh. Beliau
menderita stroke ringan. Tangan dan
kaki kirinya tak bisa digerakkan. Hal itu kembali mengingatkanku pada masa
lampau, sekitar sebelas tahun yang lalu, kala itu aku masih berumur 5 tahun,
ibuku pernah mengalami stroke ringan,
tetapi yang tidak bisa digerakkan itu tangan dan kaki kirinya. Ibu rutin
mengikuti terapi hingga akhirnya stroke
itu bisa disembuhkan, dan beliau bisa beraktifitas kembali seperti biasa.
Keluargaku kembali bersuka cita, tetapi kini kebahagiaan itu kembali terenggut.
Hari
itu kedua kakaku datang dari luar kota,
sengaja untuk menemui ibu yang sedang sakit. Dokter mengatakan bahwa pembuluh
darah di otak ibu hampir pecah, dan dokter menyarankan harus dioperasi, karena
tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya pendarahan otak. Air
mataku tak terbendung lagi, bibir ini tak henti mengucap doa kepada yang Maha Kuasa.
Akhirnya setelah di bicarakan, keluargaku setuju jika ibu dioperasi karena itu
demi keselamatannya. Tetapi ibu akan di operasi jika tekanan darahnya sudah
kembali normal.
Esok
lusanya, tekanan darah ibuku sudah kembali normal dan sudah boleh dipindahkan
ruang rawat inap. Setelah waktu dzuhur tiba, ibuku dioperasi. Aku beserta
keluargaku menunggu di ruang tunggu, dan kami serahkan semuanya pada Allah SWT,
karena kami percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik. Setelah menunggu
beberapa lama, terdengar kabar operasi telah selesai dilakukan, dan
Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Syukur yang mendalam ku
panjatkan pada-Nya.
Lalu
kami bergiliran menjenguk Ibu, karena pesan dokter tidak boleh terlalu banyak
orang yang menjenguk. Terlihat alat bantu penghirup oksigen terpasang disekitar
hidungnya, dan dikepalanya terdapat penutup luka bekas jaitan seusai operasi.
“Bu,
aku, ayah, Kak Shirin, dan Kak Fatih sangat merindukanmu, ibu harus kuat supaya
kita bisa berkumpul kembali lagi seperti dulu.” Gumamku, yang entah terdengar
sampai ke telinga ibuku atau tidak.
Sudah
hampir seminggu, ibu belum diperbolehkan pulang oleh dokter, karena kondisinya
belum stabil, masih seperti dulu. Sebelah kaki dan tangannya belum juga dapat
digerakkan, bibirnya masih tidak bisa mengucap sepatah katapun. Tetapi kami
tetap tegar dan tak akan pernah bosan untuk merawatnya. Tante Sella selalu stand by merawat ibu, sedangkan aku
harus bolak-balik pulang ke rumah karena tak mungkin aku meninggalkan sekolah
sampai berhari-hari lamanya. Dan Kak Shirin harus pulang ke Jakarta untuk
mengurus anaknya yang kemarin ditinggal untuk beberapa hari, kemudian katanya
ia akan kembali lagi kesini esok lusa.
Keesokan
harinya, tepat di hari Minggu, Aku segera bangun dari tidurku dan mulai
beraktivitas kembali diawali dengan melaksanakan sholat subuh. Udara subuh di
bulan Maret terasa dingin menggigit. Beberapa kali aku menggerakkan pipi yang
terasa beku. Air rasanya bukan lagi menyentuh kulit, tapi menusuk sampai ke
tulang. Bahkan menimbulkan rasa ngilu digigi saat berkumur. Karena hari itu
sekolahku libur, jadi aku memutuskan untuk menginap di rumah sakit. Dokter
kembali memeriksa keadaan ibuku.
“Pak
kondisi ibu sedang tidak stabil, tekanan darahnya kembali tinggi jadi terpaksa
saya harus memasang alat untuk melihat persentase tekanan darahnya.” Ucap
dokter kepada ayahku. Aku tak sengaja mendengarnya.
Lalu
ayah menyetujui ucapan dokter, kemudian sang dokter menyuruh kami,
keluarga-keluarga terdekat dari ibuku untuk segera berkumpul menemui beliau.
Entah akupun tak begitu paham alasannya karena apa. Pada malam harinya, aku
lihat ibu merasa tidak tenang dan sulit tidur hingga larut malam. Dan besok
harinyapun kondisinya masih belum stabil, nafasnya tak teratur. Aku, dan
keluargaku tak henti-hentinya mengucap doa, agar Allah memberikan yang terbaik
untuk ibuku. Tetapi ketika Allah sudah berkehendak, kami tak bisa melakukan
apapun selain pasrah dan mengikhlaskannya.
“Bu,
Aku tahu, di sudut matamu terdapat kecemasan yang kau sembunyikan di dalam
bait-bait doamu” lirihku dalam hati.
Hari
itu, tepatnya hari Senin tanggal 06 pada bulan Maret 2017 tepat setelah adzan
ashar, ibuku, malaikatku yang nyata, telah menghembuskan nafas terakhirnya. Aku
fikir ketika Ibu mengangkat tangannya itu pertanda bahwa ia sudah melewati masa
kritisnya. Tetapi kenyataannya tidak. Gerakan tangannya itu adalah sebuah
isyarat darinya, mungkin untuk berpamitan, karena yang aku lihat itu seperti
lambaian tangannya, ketika nafasnya mulai berhenti dan detak jantungnya
perlahan tak terdengar lagi. Melihat ibu seperti itu, rasanya seperti
kehilangan seluruh kebahagiaanku. Seketika aku jatuh kedalam pelukan ayahku.
Mentari
sore tak kuasa mengusir awan mendung
yang bergumpalan dalam hatiku. Meski begitu, aku harus ikhlas dan tetap
bersyukur karena masih banyak keluarga serta sahabat yang selalu memberi
semangat dan nasehat baik kepadaku. Teramat jauh jarak yang memisahkan kita,
kini tak bisa lagi ku berteduh di dalam pelukmu, yang ada hanya doa-doa yang
melangit. Bu, aku merindukanmu, dan itu akan selalu.

ngena banget agnita bagus)):
BalasHapusWah makasih udah mau baca hehe
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hapuskeren sumpah😍
BalasHapusTerimakasih :)))
HapusBaper kak..
BalasHapusSedih:''
BalasHapusRasanya nyampe ke pembaca :)
BalasHapusHanya ada beberapa penulisan yang kurang tepat
Sangat dalam kak rasanya
BalasHapus