BANGSA INI TAK AKAN MAJU JIKA KORUPSI TERUS MERAJALELA
Terjeratnya
Bupati Cirebon Sunjaya Purwadisastra dalam kasus dugaan penerimaan hadiah atau
janji terkait mutasi jabatan, proyek, dan perizinan di Kabupaten Cirebon Tahun
Anggaran 2018 menandakan semakin buruknya kualitas pemimpin daerah, karena hal
itu menimbulkan kerugian bagi masyarakat daerah, dan masyarakat daerah akan
terkena dampak langsung atas perbuatan kepala daerah tersebut. Selain Bupati
Cirebon, Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Cirebon
Gatot Rachmanto juga jadi tersangka.
Berdasarkan
data dari KPK, Bupati Cirebon ini merupakan kepala daeah yang ke-19 yang
diproses menjadi tersangka melalui operasi tangkap tangan (OTT) selama 2018.
Sedangkan pada taun 2017 ada 10 kepala daerah yang ditangani oleh KPK. Disebutkan
bahwa Kota Cirebon ini merupakan daerah yang ke-100 yang terkena kasus korupsi
sepanjang berdirinya KPK. Sangat ironis bukan?
Tetapi
kenyataannya data tersebut tidak menjadikan para pemimpin daerah berkaca diri
padahal hal tersebut jelas sangat merugikan negara. Entah mengapa para koruptor
itu tetap melakukan perbuatan yang mengancam karier dan jabatanya, belum lagi
mereka akan dipenjara serta harus menanggung malu seumur hidup.
Terkait
dengan kasus yang terus merajalela ini, pasti ada faktor penyebab yang menjadi
alasan para pemimpin melakukan korupsi. Apakah mungkin biaya politik yang
tinggi di Indonesia menjadi salah satu penyebab kepala daerah nekat melakukan
korupsi? Hal tersebut jelas bersangkutan dengan marakanya kepala daerah yang
melakukan korupsi.
Menurut
Pakar Psikologi Politik Hamdi Muluk membenarkan maraknya praktik korupsi di
Indonesia karena biaya politik yang sangat tinggi dan tidak rasional, karena
gaji kepala daerah hanya sekitar 15 juta – 20 juta, sedangkan biaya kampanye
mencapai ratusan miliar. Maka dari gaji yang diterimanya, jika dikumpulkan
selama lima tahun, belum menuupi biaya kampanye. Akibatnya, demi memenuhi biaya
politik, banyak kepala daerah dan anggota legislatif yang tergiur melakukn
korupsi.
Selain
itu, adapula penyebab utama kepala daerah
melakukan korupsi. Cobalah kita mengingat sedikit sistem pemilihan
kepala daerah yang sebelumnya, dahulu tidak menggunakan sistem demokrasi
langsung, jadi kepala daerah dipilih oleh DPRD. Sedangkan sekarang menggunakan
sistem demokrasi langsung yang sudah jelas menimbulkan dampak negatif, yaitu
biaya politik menjadi sangat tinggi karena untuk kebutuhan kampanye, yang sudah
terbukti dijadikan sebagai lahan untuk korupsi.
Maka
dari itu, kita sebagai rakyat tak hanya berpatispasi dalam memilih calon kepala
daerah, tetapi juga kita harus waspada dan turut aktif mengawasi kinerja
pejabat publik, terutama kepala derah dan anggota legislatif. Jika tidak ada
pengawasan dari publik maka akan semakin marak praktik korupsi. Adanya
pengawasan dari KPK saja masih banyak praktik korupsi, bagaimana jika tidak
diawasi? Pastilah negara ini tidak akan pernah maju karena masih dihalangi
dengan musuh besar bangsa, yakni koruptor.
Perihal
yang sudah pernah terjadi, marilah ajak diri berintropeksi, janganlah kita
membiarkan kejadian ini terus berulang di negeri kita. Kita harus pandai
memilih pemimpin sebelum para pejabat itu duduk nyaman di tempatnya, jangan
sampai kasus semacam Bupati Cirebon ini terulang lagi. Jika perlu pilihlah
pemimpin daerah yang kuat imannya, dibarengi dengan ilmu intelektual yang
tinggi dan yang benar-benar ingin memakmurkan rakyatnya. Kita memang hanya
rakyat biasa, tetapi kitalah yang menjadi pemeran utama dari sebuah negara.
Maka jangan ragu untuk mengevaluasi sistem pemerintahan negara.

Mantul, lanjutkan👍
BalasHapusBagus nih materinya..
BalasHapussemangat kak:))
BalasHapus