ESAI



ESAI KRITIK KARYA SASTRA
NOVEL “BUMI MANUSIA”
Karya : Pramoedya Ananta Toer

            Pramoedya Ananta Toer adalah seorang sastrawan Indonesia yang mendunia, ia lahir pada 1925 di Blora, Jawa Tengah, Indonesia. Hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara, sebuah wajah semesta yang paling purba bagi manusia-manusia bermartabat. Pada tanggal 21 Desember 1979, Pramoedya Ananta Toer mendapat surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G30S PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan negara sampai tahun 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih dua tahun. Beberapa karyanya lahir dari tempat purba ini, diantaranya Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca).
            Penjara tak menjadi penghalang bagi seorang Pram untuk menulis. Menurut Pram, Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Berkali-kali karyanya dilarang dan dibakar. Lebih dari 50 karyanya diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayaan, Pramoedya Ananta Toer dianugerahi berbagai penghargaan internasional. Sampai akhir hidupnya, ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra. Pada 30 April 2006 pukul 08.55 Pramoedya wafat dalam usia 81 tahun.
            Novel ini ditulis dengan diksi yang luas, dan alur yang tidak membosankan. Cerita dalam roman ini diawali dengan pengenalan tokoh utama bernama Minke, yang pada awalnya tidak diketahui siapa keluarganya. Tokoh Minke merupakan seseorang yang gemar menulis, ia merupakan siswa H.B.S. Surabaya, penulis lepas untuk S.N. v/d D dengan nama pena Max Tollenaar. Minke ini sebenarnya seorang tokoh yang terpelajar dan pemberontak. Dia menuntut penuh keadilan dari bangsa Eropa, karena pada saat itu, yaitu pada awal abad 20, seorang pribumi bukanlah apa-apa dimata bangsa Eropa. Mereka selalu ditindas. Cerita berlanjut kepada pertemuan antara Minke dan Annelies Mellema, anak dari Herman Mellema dan Nyai Ontosoroh, pemilik dari Boerderij Buitenzorg di Wonokromo pada saat kedatangannya bersama Robert Suurhof. 
            Dari segi penokohan ini, jelas sekali bahwa penulis tidak pernah main-main dalam karyanya. Dia memasukan begitu banyak peran dengan berbagai macam karakteristik, budaya, ideologi dan latar belakang menjadi satu kesatuan yang menyebabkan novel ini semakin menarik. Disertai dengan pemikiran-pemikiran para tokoh yang terpelajar, yang memiliki ciri khas masing-masing tentu dapat menambah wawasan para pembacanya.
            Selain tokoh Minke, saya juga tertarik dengan tokoh lain yang bernama Nyai Ontosoroh. Nyai Ontosoroh, yang memiliki nama asli Sanikem, berasal dari keluarga yang sederhana. Ayahnya yang haus akan kekuasaan dan berambisi untuk menjadi petinggi di perusahaan, melakukan berbagai cara agar ambisinya bisa terwujud. Yaitu dengan menjual putrinya, Sanikem, kepada seorang kepala perusahaan yang kelak menjadi suaminya walaupun tidak melalui perkawinan yang sah, yakni Herman Mellema.
Pada zaman dulu, seseorang yang dipanggil nyai itu pasti adalah seorang gundik atau bisa disebut selirnya orang Belanda. Nyai Ontosoroh ini hidup dalam stereotipe masyarakat seumur hidupnya karena ia dipanggil sebagai seorang “nyai”. Hal ini membuatnya kehilangan hak atas anak yang dia kandung dan ia besarkan sendiri
Namun isu-isu negatif itu hancur lebur karena Nyai Ontosoroh ternyata adalah seorang terpelajar, berani, tegas dan berhati baja. Dia memang seorang nyai, tapi bukan nyai yang bodoh. Dia sangat mengerti buku, ilmu pengetahuan dan hukum. Sehingga dia menjadi salah satu tokoh yang berperan penting dalam Bumi Manusia ini.
            Banyak sekali ilmu pengetahuan yang didapat dari membaca buku ini. Contohnya pada saat Minke menjelaskan tentang bagaimana sebenarnya kehidupan Belanda dan pribumi. Dia tidak hanya menggambarkan isu sosial saja, bagaimana masyarakatnya, tapi juga hukum di dalamnya. Minke tahu benar, bagaimana nilai seorang pribumi zaman dulu.
            Cerita akhir dari novel ini memang sangat memilukan. Karena Minke kehilangan istri cantik yang dicintainya yaitu Annelies, padahal hubungan keduanya hingga akhirnya sampai ke jenjang pernikahan bukanlah tanpa tintangan, dan Nyai Ontosoroh yang merupakan mertuanya kehilangan hak atas perusahaan yang telah ia besarkan secara susah payah. Semua terjadi begitu saja karena keputusan pengadilan Eropa yang memang berat sebelah. Penyebabnya tak lain adalah kemunculan Maurits Mellema, yang merupakan anak sah dari Herman Mellema dari Nederland yang merasa berhak mendapatkan warisan berupa harta kekayaan dan perusahaan milik ayahnya.
            Kisah didalam buku ini mengalir bagaikan arus yang tenang namun menghanyutkan. Membuat setiap orang yang membacanya ketagihan untuk membaca setiap halaman dari kisah Minke ini. Penggambaran mengenai kehidupan masyarakat di masa pendudukan Belanda, strata sosial yang ada, serta penggambaran mengenai perkembangan teknologi dan budaya yang ada pada masa itu digambarkan dengan cukup jelas oleh penulis.
            Hal yang menurut saya perlu dikritik dari novel ini ialah, ada beberapa penulisan yang tidak baku, serta ada beberapa pembahasan dalam buku ini yang sulit dipahami, jadi butuh dibaca secara berulang agar bisa dipahami dengan baik. Selebihnya sudah tidak perlu ada yang dikomentari lagi, menurut saya. Di sampul belakang buku ini juga tertera tulisan “Sumbangan Indonesia untuk Dunia” dan itu sudah cukup membuktikan bahwa buku ini memang patut dibaca oleh semua orang, terutama anak sekolah, agar memperluas ilmu pengetahuan.
           

Komentar